Selasa, 26 April 2011

Artikel IMM

KONSISTENSI GERAKAN INTELEKTUAL IMM
(Refleksi 50 Tahun (Setengah Abad) Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)

Oleh : Sulpandri

Pendahuluan

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada 14 Maret 2014 memasuki usia 50 tahun. Sebagai organisasi kemahasisaan, dalam usia tersebut IMM harus semakin menunjukkan kematangan dalam bergerak. Saatnya IMM lebih menampakkan gerakannya dalam menyikapi segala persoalan bangsa dengan mengusung gerakan-gerakan intelektual.
Gerakan mahasiswa belakangan ini marak kembali, tatkala mereka melancarkan aksi-aksi memprotes ketidak adilan sosial, masalah pendidikan, persoalan sosial yang tidak dipedulikan oleh pemerintah meskipun kadangkala spectrum gerak mereka kedalam ruang politik yang sifatnya jangka pendek. Banyak kalangan dan pengamat meragukan efektifitas gerakan mahasiswa bahkan cendrung skeptis. Namun, satuhal yang harus diakui bahwa eksistensi dan pengalaman kesejarahan gerakan mahasiswa tidak dapat dinafikan begitu saja.
Akhir-akhir ini banyak gerakan yang dilakukan, baik gerakan mahasiswa, masyarakat, dan kelompok lainnya yang tidak menunjukkan etika dan moral intelektual. Gerakan-gerakan itu mendengungkan demokrasi, pro rakyat, anti penindasan dan lain sebagainya tapi kenapa harus dengan kekerasan sehingga sering menimbulkan korban luka-luka, pengrusakan pasilitas negara dan bahkan ada yang meninggal dunia.

Banyak gerakan-gerakan belakangan ini berujung pada anarkisme, pengrusakan dan lain sebagainya. Gerakan-gerakan yang muncul hari ini identik dengan memperturutkan kehendak (hawa nafsu) dan kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Dalam hal ini IMM hendaknya jangan terperangkap pada ranah gerakan seperti itu.


Manifesto Gerakan Intelektual

Gerakan Mahasiswa, termasuk IMM harus mengedepankan nilai dan etika moral intelektual. Dalam rangka Milad IMM yang ke 50 ini layaknya kader-kader IMM merenungi kembali identitas gerakan IMM.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang didirikan pada tanggal 29 Syawal 1384 H / 14 Maret 1964 M merupakan artikulasi gagasan pemikiran dari tokoh-tokoh Muhammadiyah dan kalangan mudanya. Kelahiran gerakan ini di pelopori oleh aktifis muda Muhammadiyah, diantaranya Drs. Djasman Al-Kindi (Al-Marhum), Drs. Rosyad Saleh (Sekjed PP Muhammadiyah sekarang), Drs. Sudibio Markus dan termasuk di dalamnya Amien Rais (Bapak Reformasi). Ide ini muncul jauh sebelum Perguruan Tinggi (PT) Muhammadiyah didirikan pada tanggal 18 Nopember 1955, sebab faktanya cita-cita menghimpun mahasiswa Muhammadiyah dalam satu wadah telah ada sejak Muktamar Muhammadiyah ke 25 di Jakarta pada tahun 1936.
Gagasan tersebut mengalami pasang surut pergolakan, baik dalam konteks bermuhammadiyah, maupun konteks kebangsaan . pergolakan ideologi politik di masa pemerintahan Soekarno dan konsolidasi internal Muhammadiyah di dalamnya, memperlihatkan adanya dinamika yang tumbuh dari persemaian bahwa di perlukannya kamunitas baru yang hadir dalam konteks sejarahnya sebagai gerakan pembaharu di Indonesia. Mahasiswa dalam hal ini diharapkan sebagai agen perubahan bagi kaumnya baik dari konteks nahi munkar, praktek demokrasi terpimpin yang tidak demokratis dari sayap kiri komunis yang merajalela maupun dari determinasi amar ma`ruf yang mengaruskan lahirnya tatanan baru yang lebih baik.
Dalam sejarah perkembangnnya peran intelektual IMM dapat di lihat simbolitas perjuangan sebagai tonggak awal gerakan IMM. Simbolitas gerakan intelektual IMM di kenal pada Deklarasi Kota Barat di Solo pada tanggal 25 Mei 1965. pada deklasasi ini IMM dinyatakan sebagai gerakan mahasiswa Islam, mendasarkan landasan perjuanagnnya pada kepribadian Muhammadiyah untuk menjalankan fungsi stabilator dan dinamisator dalam konteks agama dan bangsa dengan perangkat imua dalah maliah dan amal adalah ilmiah.
Selanjutnya tanggal tanggal 28 Juli 1967 simbol gerakan IMM dipertegas lagi melalui deklarasi Kota Garut yang menyatakan tentang pentingnya respon kepemimpinan nasional saat itu. Kesadaran itu diwujudkan dengan meningkatkan mutu ikatan sebagai agen pembaharu (agen of change) dan pengabdi ; yang menegaskan strategi dasar organisasi, kaderisasi, kristalisasi dan konsolidasi ; dan membina kader-kader IMM sebagai kader yang takwa dan dapat memadukan intelektualitasnya dan ideologi yaitu mewujudkan anggota IMM sebagai subjek aktivitas yang setia pada ideologi dan loyal pada ikatan. Tetapi juga secara terus menerus menyempurnakan dan menertibkan ikatan sebagai alat perjuangan sebenarnya. Deklarasi ini menerangkan bahwa IMM merupakan gerakan ogen of change, pengabdian dan perjuangan.
Seiring dengan sejarak perkembangan bangsa Indonesia, dalam Konprensi Nasional (Muktamar) ke 4 tanggal 1-4 Juli 1970 di Kalibening Magelang, IMM kembali merumuskan identitas gerakannya. Yaitu sebagai organisasi kader, dan gerakan dakwah yang bergerak pada gerakan keagamaan, kemasyarakan dan kemahasiswaan. Dimana gerakan ini harus dibingkai dengan kemampuan ilmiah dan aqidah. Kader IMM di tuntut harus tertip dalam ibadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmunya untuk melaksanakan ketakwaan dan pengabdian.
Tanggal 25 Desember 1975 diadakan pertemuan dua generasi yang berbeda di kota Semarang. Pada pertemuan ini menghasilkan sebuah ikrar yang dikenal oleh kader IMM sebagai Deklarasi Baiturrahman. Deklarasi ini di ikrarkan sebagai penegasan terhadap kesadaran munculnya krisis kemanusiaan sebagai akibat modernisasi yang di paksakan. IMM berusaha memaknai demokrasi tidak sebagai satatus hierarkis-administratif melainkan sebagai bentuk persaudaraan yang universal serta adanya kesadaran bahwa perubahan social di masyarakat dapat di rekayasa.
Dalam menapaki gerakan intelektual IMM hingga sekarang menunjukkan bahwa IMM yang telah berusia 45 tahun harus dapat menunjukkan identitas kepribadian ikatan sebagai individu yang memilki kemantapan aqidah, kematangan intelektual dan progresifitas dalam aksi. Identitas gerakan IMM bukan tersekat oleh primordialisme gerakan tetapi melebur dengan kekuatan pro perubahan, pro rakyat dan pro kebenaran dimana identitas yang harus diusung haruslah mencerminkan basis moral, basis intelektualitas dan basis perjuangan yang istiqomah, sehingga cita-cita mewujudkan kebenaran , keadilan, dan konteks kehidupan yang bebas dari penindasan akan tercapai.
Dari berbagai manifesto gerakan yang di ikrarkan, hendanya IMM tidak hanya cerdas dalam menciptakan statement akan tetapi IMM harus lehih konsisten terhadap segala manifesto gerakan yang telah di hasilkan.

Formulasi Gerakan Intelektual IMM
Kelahiran dan eksistensi sebuah organisasi sosial tidak bisa dilepaskan dari intervensi kapentingan sosial, kultur atupun perkembangan politik. IMM sebagai gerakan intelektual layaknya mampu memberikan kontribusi terhadap kondisi bangsa seperti kondisi kemiskinan, pengangguran dan berbagai defisit yang sedang menimpa bangsa ini. Selain persoalan ini, menurut Amien Rais bangsa ini sedang mengalami 3 defisit yang menyebabkan keterpurukan bangsa. Tiga defisit itu adalah defisit cita-cita, keberanian, dan kepercayaan diri (Majalah Kibar, edisi II Th. 3. Mei-Juli 2006 h 12-13). Masalah-masalah besar itu pada dasarnya menjadi agenda besar IMM, sebagai bagian dari kader bangsa yang mampu untuk mempelopori untuk keluar dari berbagai problem yang membelenggu kemajuan bangsa.
Namun, dalam Seminar MIlad IMM ke 42 di kantor PP Muhammadiyah Yokyakarta pada tanggal 25 Maret 2006 yang di selenggarakan PC IMM Kab. Sleman, salah seorang pembicara melontarkan kritikan kronstruktif yang pantas direnungkan oleh kader-kader IMM dalam rangka merefleksi gerakan intelektual IMM. Kritikan tersebut di lontarkan oleh Kakanda Fiet Hasbullah Khaidir Ketua Umum DPP IMM 2001-2004. beliau mengatakan bahwa IMM saat ini kehilangan semangat (ghirah) pergerakan sebagaimana yang terbentuk pada gerakan masa awal IMM. Kader IMM pada hari ini tidak pernah membuka laci sejarah dimana IMM dibangun dan dirikan (Trikompetensi Kader Dasar IMM, Miftachul Huda, h 118).
Keadaan tersebut paling tidak ditujukan pada 3 hal. Pertama, kehilangan refleksi tauhid, namun tauhid yang dimaksud adalah tauhid sosial, tauhid sebagai ilmu bukan tauhid sebagai ideologi. Kedua, Kepemimpinan yang genuine sudah mulai hilang, bahkan berubah menjadi komprador-komprador politik, ekonomi dan terhadap kepentingan duniawi lainnya. Ketiga, IMM kehilangan intelektialitas murni yang muncul justru intelektualitas-intelektualitas tukang.
Berdasarkan kriteria tersebut, IMM harus kembali pada paradigma awal serta membangun gerakan intelektual sebagai basis gerakan untuk tercapainya tujuan mulia IMM. Paling tidak ada empat formulasi gerakan yang harus dibangun oleh IMM.
Pertama, membangun gerakan dakwah keagamaan. Gerakan ini menuntut ikatan tidak hanya sekedar kembali kepada romantisme akar sejarahnya. Akan tetapi gerakan dakwah keagamaan ini diharapkan mampu menambah peran mahasiswa Muhammadiyah dalam berbagai aktivitas dan kreativitas keagamaan. IMM harus eksisi dalam berbagai gerakan dakwah, karena semakin hari tantangan semakin kompleks dan penuh ketegangan baik didunia kampus maupun masyarakat luas.
Kedua, membangun gerakan kader intelektual. Gerakan kader intelektual dapat dimantapkan dengan sinergi dan inklusifitas gerakan. Dimana poros intelektualitas benar-benar di bangun diatas bingkai kepemimpinan dan praksis social yang nyata. Pola kaderisasi IMM (DAD, DAM, dan DAP) harus lebih dimantapkan sehingga menghasilkan kaderisasi pemikir, mampu menjawab berbagai persoalan keummatan, kebangsaan dan perserikatan. Format gerakan intelektual harus bener-benar merespon kebutuhan riil ikatan, yaitu pentingnya melakukan pemberdayaan dan kristalisasi kader dengan pembentukan basis intelektual ikatan.
Ketiga, membangun gerakan sosial. Gerakan sosial tidak hanya diartikulasikan dalam bentuk gerakan protes perlawanan aksi masa, melainkan harus mampu mengambil hati rakyat dan membaur dengan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih universal. Gerakan social harus dibangun dengan orientasi yang lebih berakar dengan nilai-nilai kemanusiaan. Model gerakan sosial yang dilakukan tidak hanya sekedar menekan elit politik (penguasa), tetapi orientasi gerakan sosial juga terarah dalam menyikapi problem kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan bencana kemanusiaan. Belakangan ini negri ini sedang di landa oleh krisi ekonomi global, pada problem ini paling tidak IMM harus memikirkan dan memberikan kontribusi untuk upaya penyelesaian terhadap krisi global tersebut.
Keempat, membangun gerakan politik nilai. Pasca reformasi gerakan politik di Indonesia semakin terbuka lebar bagi setiap warga Negara. Hal ini di tandai dengan terbuka kebebasan berpendapat dalam artian demokrasi terbuka bagi setiap kalangan. Tidak dapat dinafikan bahwa gerakan mahasiswa hari ini banyak di tunggangi oleh berbagai kepentingan partai politik. Pada posisi ini IMM harus bijak, dan berada pada garis yang bersifat independen, IMM jangan sampai masuk pada ranah politik praktis. IMM tidak buta politik akan tetapi IMM berpolitik pada tataran politik nilai.
Keempat formulasi inilah yang memungkinkan intelektualitas ikatan tetap berkibar sebagai agen perubahan dan pembaharuan yang mampu meramu spirit pembebasan agama dan intelektualitas zamannya. Mudah-mudahan IMM selalu konsisten terhadap gerakan intelektual. “Selamat Milad IMM ke 45”. Semoga di usia ini IMM lebih anggun dan lebih unggul.

Penulis : Ketua Umum PK IMM Fak. Dakwah IAIN-SU 2005-2006,
Anggota Lembaga Kaderisasi DPD IMM SU 2007-2009